DAYAK MUALANG

DAYAK MUALANG 


Dayak Mualang adalah salah satu sub suku yang masih dikategorikan dalam rumpun Ibanic, keberadaan suku Mualang ini mendiami wilayah Kab Sekadau dan Kab Sintang di Kalimantan Barat, yaitu di beberapa Kecamatan diantaranya : Kec Belitang Hilir Kab Sekadau, Kec Belitang Kab Sekadau, Kec Belitang Hulu Kab Sekadau ,Kec Sepauk Kab Sintang dan sekitarnya.

Salah satu ciri yang tampak pada orang Mualang yaitu ciri fisik yang mongoloid, wajah bulat, kulit putih/kuning langsat, mata kira-kira sipit, rambut lurus, benar juga yang ikal serta relatif tidak tinggi, dan juga dikenal dengan keramah-tamahannya, orang mualang sangat remeh membaur dengan sub suku lain. Oleh karenanya, benar berlebihan orang-orang dari pulau seberang yang mencari nafkah didaerah mualang. contohnya orang-orang lokal/ tempatan / Dayak lainnya, kemudian dari pulau jawa, sumatera (Melayu, Batak dll).

Bahasa yang dipakai Dayak Mualang adalah bahasa Melayik yaitu termasuk kumpulan Ibanic group seperti halnya kumpulan Ibanic Lainnya:Kantuk, bugao, desa, seberuang,Ketungau, sebaruk dan kumpulan Ibanic lainnya. Perbedaannya yaitu pengucapan / logat dalam kalimat dengan suku serumpun yakni pengucapan kalimat yang menggunakan imbuhan belakang kata i dan e, i dan y, misalnya: Kediri” dan Kedire”, rari dan rare, kemudian inai dan inay, pulai dan pulay dan penyebutan kalimat yang menggunakan huruf r ( R berkarat ), serta logat pengucapannya, walauun mengandung guna yang sama.

Legenda
Sekitar semakin dari 2.000 tahun lalu, kehidupan warga yang kini disebut Mualang sangat terkait dengan legenda asal usul mereka dari sebuah tempat atau wilayah yang disebut Temawai/Temawang Tampun Juah, yakni sebuah wilayah yang subur di hulu sungai Sekayam kabupaten Sanggau Kapuas, tepatnya di hulu kampung Segomun, Kecamatan Noyan.

Urang Panggau
Di masa lalu warga yang kini disebut Mualang ini hidup dan bergabung dengan kumpulan serumpun Iban lainnya dan masa itu mereka tergabung sebagai warga Pangau Banyau ( himpunan orang-orang khayangan dan manusia ) kemudian kesemuanya itu disebut Urang Negeri Panggau/Orang Menua berfaedah orang yang berasal dari tanah ini (Borneo).

Tampun Juah
'Tampun Juah' adalah tempat pertemuan dan gabungan bangsa Dayak yang dimasa lalu yang kini disebut Ibanic group. Sebelum di Tampun Juah warga Pangau Banyau tersebar dan hidup di kawasan sekitar bukit kujau’ dan bukit Ayau, kira-kira di kawasan Kapuas Hulu, kemudian pindah ke Air berurung, Balai Bidai, Tinting Lalang kuning dan Tampun Juah, dalam pengembaraannya dari satu tempat ke tempat lain di mungkinkan benar yang berpisah dan membentuk suku atau kumpulan lainnya. Kawasan persinggahan kesudahan yakni di Tampun Juah. Di sana mereka hidup dan mencapai masa waktu seratus tahun Eksistensi / keemasan, dalam tiga puluh buah Rumah Panjai ( rumah panggung yang panjang ) dan tiga puluh buah pintu utama. Mereka hidup terlindung, damai dan harmonis.

Tampun Juah sendiri berasal dari dua buah kata yakni: Tampun dan Juah, terkait dengan suatu peristiwa yang bersejarah yang adalah peringatan kesudahan terhadap suatu larangan yang tak boleh terulang selama-lamanya. Tampun sendiri yaitu suatu kegiatan pelaksanaan Eksekusi terhadap dua orang pelanggar berat yang tidak mampu ditolelir, yakni dengan kegiatan memasung terlentang dan satunya ditelungkupkan pada pasangan yang terlentang tersebut, kemudian dari punggung yang terlungkup di tumbuk dengan bambu runcing, kemudian keduanya dihanyutkan di sungai.

Kekeliruan tersebut dikarenakan keduanya terlibat dalam perkawian terlarang (mali) hubungan dengan sepupu sekali (mandal). Laki-laki bernama Juah dan perempuan bernama Lemay. Eksekusi dilakukan oleh seorang yang bernama lujun (algojo / tukang eksekusi) pada Ketemenggungan Guntur bedendam Lam Sepagi/Jempa.

Penggolongan Warga
Kehidupan di Tampun Juah terbagi dalam tiga Statifikasi atau penggolongan warga, yakni:

Bangsa Masuka / Suka (kaum kaya/purih raja), seseorang yang hidupnya berkecukupan atau kaya dan termasuk kerabat orang penting / purih Raja
Bangsa Meluar (kaum bebas/masyarakat biasa), seorang yang hidupnya menengah kebawah, bebas masalah hutang piutang dengan orang lain, atau lepas sama sekali
Bangsa Melawang (kaum Miskin/masyarakat biasa), kumpulan orang yang hidupnya miskin dan terikat janji kerja, untuk membayar segala hutangnya sampai lunas dan tak benar kewajiban hutang lainnya

Temenggung
Selain membagi tiga tingkat penggolongan warganya, masyarakat Tampun Juah juga mengatur kehidupan mereka dengan membentuk pimpinan – pimpinan di setiap rumah panjang / kampung yang disebut Temenggung, tugasnya mengatur kehidupan kearah yang teratur dan semakin benar.

Tarian Dayak Mualang
Dayak Dance / Tari Dayak ( Mualang Ngajad Kayau ) Kalbar
Tari Pingan Mualang / Tari Pireng Mualang, tersebar di belitang Ilek, tengah dan hulu. Tari Pedang Mualang / ngajat bebunoh tersebar di belitang Ilek ( merbang dan sekitarnya ) dan belitang Hulu ( sebetung dan sekitarnya ). Ajat Temuai datai ( persembahan tamu yang datang / penyambutan tamu / tari aturan sejak dahulu kala ), tersebar di belitang ilek, tengah, ulu dan sekitarnya.

Sanggar Seni
Sanggar Sengalang Burong ( provinsi kalbar, rumah betang Letjen sutoyo ) Sanggar Sengalang Menenank ( di desa merbang, kec. belitang Hilir, Kab sekadau ) Sanggar Ayak Menebing ( di Kecamatan Sui-Ayak, kab. Sekadau ).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

DAYAK KAMANG KALBAR

BENTENG KRATON BUTON

FAKTA MENARIK DARI SUKU SUNDA