DAYAK APO KAYAN

SUKU KAYAN ( DAYAK "APO KAYAN")


Dayak Apo Kayan, salah satu rumpun Dayak yang tersebar di Sarawak, Kalimantan Timur, Kalimantan Barat dan Kalimantan Utara.
Dayak Apo Kayan berawal dari pinggiran Sungai Kayan, Kabupaten Bulungan, Provinsi Kalimantan Utara.
Menurut legenda pada masyarakat Dayak Apo Kayan, orang Kayan merupakan cikal bakal dari semua suku-suku kecil Dayak yang berada di sepanjang Sungai Kayan.

APO artinya dari. Apo bisa juga berarti bagian dari. Kayan, adalah nama jenis kayu. Pengertian kayu kayan adalah lihat kayan. Kesimpulan kayu kayan adalah lihat kayan. Kayu kayan berasal dari kata dasar kayu.

Di Sarawak Dayak Kayan lebih sering menyebut diri mereka sebagai "Orang Ulu", sedangkan bagi mereka yang berada di Kalimantan Timur dan Kalimantan Barat hingga ke Sarawak Malaysia. Dayak Kayan sering juga disebut diri mereka sebagai Dayak Apo Kayan.

Dari beberapa penelitian yang dilakukan oleh para peneliti sejarah dan anthropolog, bahwa Dayak Kayan dan Dayak Kenyah termasuk suku dayak tertua di Kalimantan, yang telah menghuni pulau Kalimantan sejak ribuan tahun Sebelum Masehi, yang diduga bermigrasi dari daerah selatan Cina atau mungkin dari Formosa.

Ada satu cerita dalam masyarakat Dayak Kayan, dikatakan bahwa dahulu seorang raja bernama Raja Akalura bersama pengikutnya datang dari Tiongkok menaiki 2 buah kapal menuju Kalimantan. Di perjalanan kelompok mereka terpisah. Kelompok pertama mendarat di Brunei, inilah yang menjadi orang Dayak Kayan, sementara kelompok satu lagi mendarat di cekungan Baram, menetap dan membangun pemukiman, kemudian dikenal sebagai orang Dayak Kenyah. Hal inilah mungkin sebab awal banyak ditemukannya persamaan antara Dayak Kayan dan Dayak Kenyah.

Sedangkan menurut pendapat lain, mengatakan bahwa perjalanan orang Kayan terjadi dalam 3 gelombang, yaitu:
Gelombang 1 (abad 15): Apo Duat (Mat Murut dan Baram Sungai) dan Usun Apau (Balui dan Tinjar)
Gelombang 2 (abad 16 hingga abad 18): Apau Kayan, Kayan River dan Bahau Sungai
Gelombang 3 (abad 18 hingga abad 20): Malinau, Sesayap, Segah, Kelinjau, Telen, Wehea, Belayan, sungai Mahakam dan Mendalam. Beberapa ke Sarawak (Balui, Tinjar, Baram dan sungai Baleh).

Pada pertengahan abad 17 hingga 19, kelompok Dayak Kayan suka menyerang etnis lain secara brutal, dengan memburu kepala (headhunter) atau ayau kung. Mereka menempati lahan baru dari barat Sarawak sampai ke timur laut Kalimantan, menggusur penduduk setempat dan memberi nama tempat tersebut untuk menandakan kekuasaan mereka. Mereka bahkan terlibat perang dengan suku Suluk, suku Bajau dan Dayak Tidung Sabah.

Sedangkan etnis dayak lain yang bermukim di sekitar wilayah Mahakam (Kalimantan) ikut terdesak, seperti Dayak Ot Danum, Dayak Bukat, Dayak Penihing, Dayak Punan, Dayak Murut, Dayak Tunjung, Dayak Benuaq dan Dayak Maloh harus mundur ke daerah Barat dan ke wilayah Kalimantan Tengah, untuk menghindar dari kebrutalan suku Kayan. Sedangkan yang bertahan harus tunduk di bawah kekuasaan kelompok Kayan. Di utara Kalimantan Timur, Dayak Burusu (Brusu) dan Dayak Tenggalan terdesak ke pantai Timur Kalimantan setelah perluasan daerah kekuasaan kelompok Kayan. Banyaknya jumlah anggota kelompok Kayan yang ahli perang, mobilitas tinggi, dan sumber daya yang kaya, membuat kelompok Kayan berkuasa mutlak di Kalimantan Timur selama 300 tahun. Tapi Pemerintah Kolonial Belanda, tidak mengakui mereka sebagai pemerintahan kerajaan tersendiri. Oleh Belanda mereka hanya dianggap sebagai suku primitif karena tidak memiliki wilayah kerajaan yang menetap, dibandingkan dengan Kesultanan Brunei, Kutai, Bulungan, Berau dan Tidung.

Kelompok Kayan Kayan terdiri dari 3 sub suku, yang terbagi menurut bahasa:
Dayak Ga'ay / Mengga'ay, asal nama berasal dari pedang "gay", kata gay, berarti "mandau" yang digunakan dalam pengayauan (mengayau). Versi lain menyebutkan nama ga'ay, berasal dari bahasa Kenyah Lepo Tau yang menyebut orang-orang ini "ba'ay", yang berarti orang yang tinggal di muara sungai. Panjang Glat, Long Huvung Lama dan Keliway. Seloy / Falun Kiya: n dan Ba'un panjang oleh Sungai Kayan. Long Way spt: Long Nah, Melean, dan bentuk panjang oleh mulut Ancalong tersebut. Panjang La'ay Dan Ayan Panjang Sungai Segah.

Dayak Kayan, istilah "kayan", yang berarti "ini adalah tanah kami", mereka hidup kebanyakan di sekitar sungai Baram. Kelompok di Kalimantan Timur, "Suling, Uma Uma Lekwe, Uma 'Tua: n, Uma Wak, Uma' Laran, Uma Lekan dan lain-lain. Kelompok di Kalimantan Barat, Uma 'Aging, Uma Pagung', dan lain-lain. Kelompok di Sarawak, Sungai Balui, Sungai Baram, Sungai Tinjar dan lain-lain. Sebuah kelompok kecil menyebut diri (Kayan) Busang, nama diadopsi sebelum migrasi mereka ke Kayan Apau.
Dayak Bahau, menurut Kenyah, kata berasal dari kata "baw", yang berarti tinggi (dataran), dimana Bahau dulu tinggal di Baram sebelum bermigrasi. Kelompok Bahau: Hwang Tring, Hwang Siraw, Hwang Ana, dan Hwang Boh di Mahakam. Ngorek, Lalu Pua 'Sungai Kayan, dan suku Merap di Malinau.

Ekspansi kelompok Kayan, mempengaruhi banyak kelompok etnis lain yang menjadi Kayanized, seperti Dayak Melanau dan Dayak Murut. Di Mahakam, terdapat 2 kelompok Kayan, yaitu: Dayak Kayan Amoh (Kayan Salah) dan Dayak Kayan Laan (Kayan Benar). Dayak Kayan Amoh sebenarnya adalah Dayak Murut yang terakhir menyebut diri mereka juga sebagai Dayak Kayan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

DAYAK KAMANG KALBAR

BENTENG KRATON BUTON

FAKTA MENARIK DARI SUKU SUNDA